Kamis, 15 November 2012

9 Cara Cepat SixPack Dirumah


9 Cara Cepat SixPack Dirumah




1. Knee Ups

2. Leg Raises

3. Cycles

4. Reverse Crunch

5. Leg On Coach Crunches

6. Hip Trust

7. Cross Crunch

8. Reach and Touch

9. Cross leg reverse crunch

Kamis, 01 November 2012

Hakikat Komunikasi


Hakikat Komunikasi I
A. Pengertian Komunikasi.

Pentingnya studi komunikasi karena permasalahan-permasalahan yang timbul akibat komunikasi.
Ilmu Komunikasi, apabila diaplikasikan secara benar akan mampu mencegah dan menghilangkan konflik antar-pribadi, antar-kelompok, antar-suku, antar-bangsa, dan antar-ras, membina kesatuan dan persatuan umat manusia di bumi.

Hakikat Komunikasi adalah proses pernyataan antar-manusia. Yang dinyatakan itu adalah pikiran dan perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya.
Dan dalam "Pengantar Ilmu Komunikasi-Dani Vardiansyah.2004:9",  Komunikasi adalah usaha penyampaian pesan antar manusia.

Dalam "bahasa" komunikasi pernyataan dinamakan pesan (message), yang menyampaikan pesan disebut komunikator (communicator/sender)), dan yang menerima pesan disebut komunikan (communicatee/receiver).
Jadi, Komunikasi berarti proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan.

Secara Etimologis, komunikasi berasal dari bahasa latin "communicatio". Istilah ini bersumber dari kata "communis" yang berarti sama;maksudnya sama makna atau sama arti. Jadi komunikasi terjadi apabila terdapat kesamaan makna mengenai suatu pesan antara komunikator dan komunikan.

Jika tidak terjadi kesamaan makna antara komunikator dan komunikan mengenai isi pesan, maka komunikasi tidak terjadi, berarti prosesnya tidak efektif dan komunikatif.

Wilbur Schramm menyatakan  bahwa Field of experience merupakan faktor yang amat penting untuk terjadinya komunikasi, supaya proses penyampaian dan penerimaan pesan antara komunikator-komunikan berjalan baik.

B. Proses Komunikasi

Pada hakikatnya, komunikasi yaitu proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan. Dan proses komunikasi ini dikategorikan kedalam dua perspektif.

1. Proses Komunikasi dalam Perspektif Psikologis.
Proses ini terjadi pada diri komunikator dan komunikan. Ketika terjadi proses komunikasi, penyampaian dan penerimaan pesan oleh dan dari komunikator ke komunikasn, maka dalam diri mereka terjadi suatu proses. Pesan yang disampaikan terdiri dari dua aspek yakni isi pesan (the content of language) dan lambang (symbol). Konkretnya isi pesan itu adalah pikiran dan perasaan, sedangkan lambang adalah bahasa.

2. Proses Komunikasi dalam Perspektif Mekanistis.
Proses ini berlangsung ketika komunikator menyampaikan pesannya kepada komunikan secara lisan ataupun lisan. Ketika komunikator menyampaikan pesan melalui bibir kalau lisan dan tangan jika tulisan. Dan penangkapan pesan oleh komunikan dapat dilakukan dengan indera telinga, indera mata, dan indera lainnya.

Proses ini diklasifikasikan menjadi proses komunikasi secara primer dan secara sekunder.

a. Proses Komunikasi secara primer.
Proses komunikasi secar primer adalah proses penyampaian pesan dengan menggunakan lambang (simbol) sebagai media atau saluran. Ada dua jenis lambang ini, yaitu verbal dan non-verbal.
1.     Lambang Verbal: Yakni bahasa, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.
2.     Lambang non-verbal: Yakni yang bukan berupa bahasa, seperti isyarat anggota tubuh, gesture, tanda-tanda yang bukan berupa bahasa baik lisan ataupun tulisan.
b. Proses komunikasii secara sekunder.
Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat atau sarana untuk menyampaikan pesannya. Penggunaan media/alat ini dikarenakan jarak/jauhnya antara komunikator dan komunikan, atau benyaknya jumlahnya, atau kedua-duanya.
Contoh: Menggunakan surat, surat kabar, radio, atau televisi.

c. Proses komunikasi secara linear.
Proses komunikasi secara linear adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan sebagai titik terminal. Berlangsung pada situasi komunikasi tatap muka (face-to-face communication). maupun dalam situasi komunikasi bermedia (mediated communication).
Komunikasi ini hanya terjadi satu arah, tanpa feedback dari komunikan kepada komunikator.

d. Proses komunikasi secara sirkuler.
Proses komunikasi secara sirkuler adalah proses penyampaian pesan yang terjadi feedback/ umpan balik terhadap pesan yang disampaikan komunikator terhadap komunikan.
C. FAKTOR PENUNJANG KOMUNIKASI EFEKTIF

Komunikasi efektif adalah sejauh mana komunikator mampu berorientasi kepada komunikan. (Dani Vardiansyah (2004). Berorientasi artinya memahami kemampuan komunikan dalam menerima sebuah pesan, terkait dengan pemilihan bentuk pesan, makna pesan, struktur pesan,dan cara penyampaian pesan, termasuk juga media yang akan digunakan.
contoh: ketika berkomunikasi tatap muka, jika komunikator sudah tahu bahwa komunikan memilik kelemahan dalam pendengaran, maka komunikator bisa berteriak agar komunikan bisa mendengarnya dengan jelas ketikan menyampaikan pesan. Ini ditujukan agar komunikasi berjalan efektif.

Wilbur Schramm menyatakan bahwa, kita dapat mendapatkan response yang baik ketika dalam berkomunikasi jika kita dapat menentukan keadaan / proses penyampaian pesannya dengan baik (the condition of success in communication). Berikut syarat agar komunikasi berjalan efektif
i. Pesan yang hendak dismpaikan hendaknya dirancang agar menarik perhatian komunikan
ii. Pesan harus menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh komunikan
iii. Isi pesan sesuai dengan kebutuhan komunikan
iv. Isi pesan juga mengandung masukan/saran bagaimana memenuhi kebutuhan komunikan.

Ada beberapa faktor yang dapat kita identifikasi untuk menciptakan komunikasi berjalan efektif.
- timing yang tepat
- bahasa yang digunakan mudah dimengerti
- sikap dan nilai yang sesuai
- jenis kelompok yang bergantung situasi dan kondisi

Dan berikut faktor-faktor yg dilihat dari unsur-unsur komunikasi.
1. Faktor pada Komunikan.
- harus memiliki pengalaman yang sama dengan komunikator (field of experience-Wilbur Schramm), sehingga dapat mengerti isi pesan yang disampaikan.
2. Faktor Pada Komunikator.
- kredibilitas komunikator diakui, komunikator adalah orang yang dipercaya (source credibility)
- Daya tarik komunikator, mempunyai image yang baik (source attractiveness)

D. HAMBATAN KOMUNIKASI

1. Gangguan. (noise)
Ada dua jenis:
i.Gangguan mekanik/Gangguan Teknis
- Gangguan mekanik ialah gangguan yang disebabkan saluran komunikasi. -Onong Uchjana (2003)
- Gangguan teknis adalah gangguan yang terjadi saat proses penyampaian pesan dari komunikator ke komunikan, mulai dari proses pengiriman hingga proses penerimaan. -Dani Vardiansyah (2004)
contoh: sinyal saluran radio yang terganggu saat siaran

ii.Gangguan Semantik.
-Gangguan ini bersangkutan dengan pesan komunikasi yang maknanya menjadi rusak (Onong Uchjana 2003:46), hal ini dikarenakan pengetahuan disetiap individu,komunikator dan komunikan. Ketika penyampaian dan penerimaan pesan, makna pesan bisa berubah karena perbedaan penilaian terhadap makna dan isi pesan.
contoh: kata "anjing", ada sebagian orang setuju itu adalah hewan piaraan yang setia dan penurut, dan ada juga yang setuju itu adalah hewan yng galak dan menakutkan.
Hal ini tergantung dari orang yang menginterpretasikannya. hal ini juga dapat membuat misunderstanding & miscommunication

2.Kepentingan
Kepentingan akan membuat orang menjadi selektif  dalam menanggapi suatu pesan.
Pihak yang berkepentingan biasanya tidak mengajukan tujuannya dgn terus terang, tetapi secara implisit. Sehingga kesannya kurang baik.

3.Motivasi Terpendam.
Motivasi dapat memngaruhi proses komunikasi, hal ini dikarenakan adanya tujuan yang hendak dicapai dalam proses penyampaian pesan sehingga terkadang membuat lawan bicara mencoba menghindari sesuatu yang seharusnya disampaikan

4.Prejudice/Prasangka
Hal ini merupakan salah satu hambatan komunikasi dimana orang mempunyai prasangka belum apa-apa sudah merasa curiga dengan orang yang menyampaikan pesan dan terhadap isi pesan yang disampaikan, sehingga proses komunikasi terhambat

E. EVASI KOMUNIKASI
Evasi Komunikasi yaitu gejala mencemoohkan dan mengelakkan suatu komunikasi untuk kemudian mendiskreditkan atau menyesatkan pesan komunikasi
E.Cooper & M.Johada mengemukakan jenis evasi.
i.Menyesatkan Pengertian/makna.
contoh: seseorang yang berkata sesuatu yang sebenarnya baik dan tanpa maksud tertentu, lalu orang lain menilainya tidak baik, dan menyatakan dan menginterpretasikannya buruk.

ii.Mencacatkan pesan komunikasi.
contoh: orang yang suka menyebarluaskan suatu pesan lalu maknanya berubah-ubah karena tujuan tertentu sehingga isi/makna pesan sudah rusak/buruk

iii.Mengubah kerangka referensi
contoh: orang yang menyampaikan perkataan orang lain dengan menambah warna pada pesan tersebut sesuai dengan sudut pandangnya masing-masing.

*Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi (Prof.Onong Uchjana Effendy 2003:41-52)
*Pengantar Ilmu Komunikasi-Pendekatan Taksonomi Konseptual (Drs.Dani Vardiansyah, M.Si. 2004)
*Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi (prof.Onong Uchjana Effendy. 1993:27-41)

Reinforcement

REINFORCEMENT

Pengertian

Adalah proses dimana tingkah laku diperkuat oleh konsekuensi yang segera mengikuti tingkah laku tersebut. Saat sebuah tingkah laku mengalami penguatan maka tingkah laku tersebut akan cenderung untuk muncul kembali pada masa mendatang.

Contoh:
  • Pada percobaan yang dilakukan oleh Thorndike (tahun 1911), Ia meletakkan seekor kucing yang lapar pada sebuah kandang. Di sisi luar kandang yang dapat dilihat oleh kucing, Thorndike meletakkan makanan. Pintu kandang akan terbuka jika kucing memukul tuas yang ada pada pintu. Pintu tidak akan terbuka kecuali kucing dapat memukul tuas tersebut. Setelah melakukan beberapa gerakan, akhirnya kucing dapat memukul tuas tersebut dan akhirnya pintu terbuka sehingga kucing tersebut dapat mengambil makanan tersebut. Perlakuan yang sama dilakukan pada waktu yang berbeda dan ternyata kucing dengan segera mampu membuka pintu kandang dengan memukul tuas yang ada.
Pada contoh ini, kucing tersebut akan cenderung untuk memukul tuas saat ini dimasukkan kedalam kandang, karena tingkah laku tersebuat segera menghasilkan akibat terbukanya pintu dan kucing dapat mengambil makanan yang ada. Mengambil makanan (pada kucing yang lapar tersebut) merupakan konsekuensi yang reinforced (memperkuat) tingkah laku kucing memukul tuas yang ada.


Dari contoh di atas, reinforcement dapat didefinisikan sebagai:
  • 1. Kejadian perilaku tertentu
  • 2. Diikuti oleh akibat yang segera mengikutinya
  • 3. Hasilnya menguatkan tingkah laku tersebut.

Jenis-Jenis Reinforcement

Positif Reinforcement
  • Kejadian sebuah tingkah laku
  • Diikuti oleh penambahan stimulus atau peningkatan intensitas dari stimulus yang hasilnya menguatkan tingkah laku tersebut.
Negatif Reinforcement
  • Kejadian sebuah tingkah laku
  • Diikuti oleh penghilangan stimulus atau penurunan intensitas stimulus yang hasilnya menguatkan tingkah laku tersebut.
Contoh:

Negatif Reinforcement
  • Tingkah laku Ibu yang membelikan anak permen berhasil mengurangi atau menghentikan tingkah laku tantrum anak (stimulus yang tidak disukai menghilang). Akibatnya, Ibu akan cenderung untuk membelikan anak permen saat anak bertingkah laku tantrum di toko.

Positif Reinforcement
  • Saat anak bertingkah laku tantrum di toko, ia mendapatkan permen (positif reinforcer/penguat positif diberikan). Akibatnya, anak akan cenderung untuk tantrum di toko.

Tingkah Laku Escape dan Avoidance

Di (dalam) perilaku escape, kejadian perilaku mengakibatkan penghentian dari suatu aversive stimulus yang telah siap muncul ketika perilaku terjadi. Dengan kata lain, orang lepas/terhindar dari aversive stimulus dengan berperilaku tertentu, dan perilaku itu diperkuat. Di (dalam) perilaku avoidance, kejadian perilaku mencegah munculnya aversive stimulus. Dengan kata lain, orang menghindari aversive stimulus dengan berperilaku tertentu, dan perilaku itu diperkuat.

Contoh:

Perilaku Escape:
  • Seseorang berjalan di atas aspal yang panas dan dengan seketika melangkah ke rumput. Pijakan ke rumput merupakan jalan keluar dari aspal yang panas.

Perilaku Avoidance:
  • Seseorang mengenakan sepatu lain waktu saat dia berjalan di aspal panas. Memakai sepatu merupakan penghindaran dari aspal yang panas.

Unconditioned dan Conditioned Reinforcers

Reinforcement adalah proses natural yang mempengaruhi tingkah laku manusia dan hewan. Unconditioned reinforcers adalah penguat alami yang biasanya bersifat kebutuhan biologis (contoh: makanan, air, dan kebutuhan sexual); tidak ada pengalaman lebih dulu yang diperlukan dengan stimuli ini untuk menjadikannya berfungsi sebagai reinforcers. Conditioned reinforcer adalah stimulus netral tapi menjadi penguat yang tidak dapat dipungkiri dengan memasangkannya dengan unconditioned reinforcer (contoh: uang dan perhatian orang tua).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keefektivan Reinforcement
  • Immediacy/Kesegeraan
Waktu antara munculnya perilaku dan konsekuensi yang menguatkan adalah faktor yang penting. Untuk konsekuensi yang lebih efektif, konsekuensi tersebut harus diberikan segera setelah munculnya tingkah laku. Contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari adalah bila kita mengutarakan sebuah lelucon kepada teman kita dan dengan segera teman kita tertawa karenanya, maka kita cenderung akan kembali mengutarakan lelucon tersebut di kemudian hari. Namun jika setelah kita mengutarakan lelucon tersebut ternyata teman kita terlambat tertawa, maka kita akan cenderung untuk tidak mengulangi mengutarakan lelucon tersebut.
  • Contingency
Ketika respon secara konsisten diikuti oleh konsekuensi yang segera, konsekuensi tersebut akan lebih efektif untuk menguatkan (reinforce) respon tersebut. Saat respon tersebut menghasilkan konsekuensi dan konsekuensi tersebut tidak muncul kecuali respon tersebut hadir terlebih dahulu, kita katakan bahwa contingency hadir diantara respon dan konsekuensi. Contohnya saat kita menekan tombol starter pada motor kita dan dengan segera motor tersebut dapat nyala, maka kita akan cenderung menyalakan mesin motor kita hanya dengan menekan tombol stater tersebut. Namun jika ternyata suatu saat tanpa menekan tombol stater motor kita dapat menyala, maka perilaku menekan tombol stater ini akan melemah. Contoh lain adalah, ibu yang berjanji pada anaknya, bahwa setiap kali anaknya berhasil mendapatkan peringkat I di kelasnya maka ia akan memberikan anaknya hadiah berlibur ke pulau Bali, hal ini dapat membuat anak menjadi rajin belajar dan berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkan peringkat I. Namun jika suatu saat ia diajak ibunya untuk berlibur ke pulau Bali meskipun ia tidak mendapatkan peringkat I, maka perilaku rajin belajar dan usaha keras anak bisa jadi melemah.
  • Eshtablishing
OperationsAdalah kejadian yang mengubah nilai sebuah stimulimenjadi sebuah penguat. Contoh: Saat kita dalam kondisi haus, air akan lebih bermakna dibandingkan saat kita dalam kondisi normal.
  • Individual Differences/Perbedaan Individual
Reinforcer (penguat) akan berbeda pada setiap individu. Contoh: permen mungkin akan menjadi penguat pada anak kecil, namun (mungkin) tidak pada orang dewasa.
  • Magnitude/Kwantitas

Dengan establishing operations yang sesuai, biasanya, efectiveness suatu stimulus sebagai reinforcer adalah lebih besar jika jumlah atau penting/besar suatu stimulus lebih besar. Contohnya: Kita akan lebih berusaha keras untuk keluar dari bangunan yang sedang terbakar dibandingkan dengan usaha kita untuk keluar dari suatu tempat yang panas terkena matahari.


Schedules of Reinforcement (Jadwal Penguatan)

Adalah pengaturan waktu atau frekuensi pemberian penguatan. Penguatan yang diberikan hanya pada waktu-waktu tertentu disebut partial reinforcement.

Jadwal penguatan bervariasi menurut waktu pemberian C.S. Ada 2 kategori penjadwalan penguatan ini, yaitu:
  • Pemberian penguatan berdasarkan jumlah respon (ratio) dan pemberian penguatan berdasarkan selang waktu (interval).
  • Pemberian penguatan dilakukan secara teratur (fixed/regular) atau tidak teratur (variabel/irregular).

Dari 2 kategori tersebut maka diperoleh 4 penjadwalan penguatan yaitu:
  • Fixed Ratio (FR): suatu jimlah respon tertentu menentukan penguatan berikutnya diberikan (misalnya setelah 25 kali terjadi perilaku operant).
  • Fixed Interval (FI): selang waktu tertentu (misalnya 5 menit) menentukan pemberian penguat berikutnya.
  • Variabel Ratio (VR): jumlah perilaku responden yang terjadi tidak ditentukan secara kaku (misalnya setelah 5 sampai 15 kali)
  • Varibel Interval (VI): waktu pemberian penguat divariasi diantara selang waktu tertentu (tiga sampai lima menit, misalnya).

OPERANT CONDITIONING


OPERANT CONDITIONING


1.1 Pengertian Operant Conditioning (Pengondisian Instrumental)
Operant conditioning merupakan salah satu dari dua jenis pengondisian dalam pembelajaran asosiasi (associative learning). Pembelajaran asosiatif adalah pembelajaran yang muncul ketika sebuah hubungan dibuat untuk menghubungkan dua peristiwa. Dalam operant conditoning, individu belajar mengenai hubungan antara sebuah perilaku dan konsekuensinya. Sebagai hasil dari hubungan asosiasi ini, setiap individu belajar untuk meningkatkan perilaku yang diikuti dengan pemberian  ganjaran dan mengurangi perilaku yang diikuti dengan hukuman. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengertian operant conditioning adalah sebuah bentuk dari pembelajaran asosiatif di mana konsekuensi dari sebuah perilaku mengubah kemungkinan berulangnya perilaku (King, 2010 :356).
2.1 Prinsip-prinsip operant conditioning
 2.1.1 Penguatan (reinforcement)
Penguatan adalah proses belajar untuk meningkatkan kemungkinan dari sebuah perilaku dengan memberikan atau menghilangkan rangsangan. Prinsip penguatan dibagi menjadi dua, yaitu penguatan positif dan penguatan negatif.
a. Positive Reinforcement (Penguatan Positif)
Penguatan positif (positive reinforcement) adalah suatu rangsangan yang diberikan untuk memperkuat kemungkinan munculnya suatu perilaku yang baik sehingga respons menjadi meningkat  karena diikuti dengan stimulus yang mendukung. Sebagai contoh, seorang anak yang pada dasarnya memiliki sifat pemalu diminta oleh guru maju ke depan kelas untuk menceritakan sebuah gambar yang dibuat oleh anak itu sendiri. Setelah anak tersebut membacakan cerita, guru memberikan pujian kepada anak tersebut dan teman-teman sekelasnya bertepuk tangan. Ketika hal tersebut berlangsung berulang-ulang, maka pada akhirnya anak tersebut menjadi lebih berani untuk maju ke depan kelas, bahkan kemungkinan sifat pemalunya akan hilang.
Rangsangan yang diberikan untuk penguatan positif dapat berupa hal-hal dasar seperti, makanan, minuman, sex, dan kenyamanan pisikal. Selain itu, beberapa hal-hal lain seperti uang, persahabatan, cinta, pujian, penghargaan, perhatian, dan kesuksesan karir juga dapat digunakan sebagai rangsangan penguatan positif
       b. Negative Reinforcement (Penguatan Negatif)
Negative Reinforcement adalah peningkatan frekwensi suatu perilaku positif karena hilangnya rangsangan yang  merugikan (tidak menyenangkan). Sebagai contoh,  seorang ibu yang memarahi anaknya setiap pagi karena tidak membersihkan tempat tidur, tetapi suatu pagi si anak tersebut membersihkan tempat tidurnya tanpa di suruh dan si ibu tidak memarahinya, pada akhirnya si anak akan semakin rajin membersihkan tempat tidurnya diringi dengan berkurangnya frekwensi sikap kemarahan dari ibunya.
Perbedaan mutlak penguatan negatif dengan penguatan positif terletak pada penghilangan dan penambahan stimulus yang sama-sama bertujuan untuk meningkatkan suatu perilaku yangbaik.
* Penguatan Positif + Stimulus => Perilaku baik
     * Penguatan Negatif – Stimulus => Perilaku baik
2.1.2  Hukuman (Punishment)
Penguatan negatif (negative reinforcement) tidaklah sama dengan hukuman, keduanya sangat berbeda. Penguatan negatif lebih bertujuan untuk meningkatkan probabilitas dari sebuah perilaku, sedangkan hukuman lebih bertujuan untuk menurunkan probabilitas terjadinya perilaku. Dalam penguatan negatif respon akan meningkat karena konsekuensinya, sedangkan pada hukuman respon akan menurun karena konsekuensinya. Sebagai contoh, ketika kita meminum obat saat kita sakit kepala dan  hasilnya sakit kepala kita hilang , maka kita  akan meminum obat yang sama saat kita mengalami sakit kepal. Penghilangan  rasa sakit kepala pada kasus ini merupakan penguatan negatif, sedangkan apabila setelah meminum obat ternyata kita mendapat alergi, maka tentunya kita tidak akan meminum obat yang sama lagi sebab mendapat alergi dalam kasus ini merupakan sebuah hukuman sehingga perilaku berikutnya tidak akan mengulangi hal yang sama.
Hukuman (punishment) adalah sebuah konsekuensi untuk mengurangi atau menghilangkan kemungkian sebuah perilaku akan muncul. Sebagai contoh, seorang anak bermain-main pedang-pedangan menggunakan pisau, kemudian kulit jari tanganya terpotong ketika pisau tersebut salah diarahkan. Pada akhirnya anak tersebut akan sedikit kemungkinannya bermain-main menggunakan pisau.
    Hukuman positif dan hukuman negatif
Dalam hukuman juga terdapat pembagian antara positif dan negatif. Hukuman positif (positive punishment) dimana sebuah perilaku berkurang ketika diikuti dengan rangsangan yang tidak menyenangkan, misalnya ketika seseorang anak mendapat nilai buruk di sekolah maka orangtuanya akan memarahinya hasilnya anak tersebut akan belajar lebih giat untuk menghindari omelan orangtuanya (akan kecil kemungkinannya anak tersebut akan mendapatkan nilai jelek). Hukuman negatif (negative punishment), sebuah perilaku akan berkurang ketika sebuah rangsangan positif atau menyenagkan diambil. Sebagai contoh, seorang anak mendapat nilai jelek akibat terlalu sering bermain-main dengan temannya dan malas belajar, kemudian  anak tersebut dihukum oleh orangtuanya untuk tidak boleh bermain dengan teman-temannya selama sebulan, akhirnya anak tersebut tidak akan terlalu sering bermain-main dengan temannya atau lebih mengutamakan pelajarannya
3.1 Stimulus Generalization dan Discrimination Pada Operant Conditioning.
3.1.1 Generalization (Generalisasi)
Generalization  pada operant conditioning adalah memberikan respon yang sama terhadap stimulus yang sama atau mirip. Fokus perhatiannya adalah  tingkat dimana perilaku disamaratakan dari satu situasi ke situasi yang lain.
Sebagai contoh, anak kecil yang mendapatkan penguatan oleh orang tuanya karena menimang dan menyayangi anjing keluarga, ia akan segera mengeneralisasikan respon menimang anjing itu dengan  anjing yang lain. Contoh lain, seorang guru memuji siswanya apabila siswa itu mengajukan pertanyaan yang bagus yang berhubungan dengan bahasa Inggris, hal ini disamaratakan dengan kerja keras dalam sejarah, matematika maupun dalam mata pelajaran yang lain.
3.1.2 Discrimination (diskriminasi)
Diskriminasi dalam operant conditioning berarti melibatkan perbedaan antara stimulus-stimulus dan kejadian-kejadian lingkungan, atau dapat diartikan merespon stimulus yang menunjukkan bahwa sebuah perilaku akan atau tidak akan dikuatkan.
Sebagai contoh, Jika dikaitkan dengan contoh diatas dimana anak akan mengeneralisasikan menyayangi anjing keluarga dengan anjing yang lainnya, sedangkan hal itu bisa saja berbahaya ( dapat dikatakan, anjing tetangga sangat galak dan suka menggigit) maka orang tua harus memberikan latihan diskriminasi, sehingga anak mendapatkan penguatan jika ia menyayangi anjing keluarga dan bukan anjing tetangga, dengan cara  oranng tua menunjukkan aspek-aspek anjing yang melihatkan keramahannya( misalnya ekornya biasa dikibas-kibas) sehingga anak akan bisa mengenali mana anjing yang rmah dan biisa disayang dan mana anjing yang galak. Contoh lain, seorang siswa tahu bahwa wadah di  meja guru yang bertulisan “ Matematika” adalah tempat ia harus meletakkan tugas matematika hari ini, sementara wadah lainnya yang bertulisan “ Bahasa Inggris “ adalah tempat tugas bahasa inggris hari ini harus diletakkan.
3.2  Extinction (Pelenyapan)
Extinction  merupakan suatu penghentian penguatan. Jika dalam suatu kasus dimana pada perilaku sebelumnya individu mendapat penguatan kemudian tidak lagi dikuatkan sehingga akan ada kecenderungan penurunan perilaku, maka hal inilah yang dinamakan munculnya suatu pelenyapan (extinction).
Seorang siswa mendapatkan beasiswa setiap kali berhasil menjadi juara kelas. Namun, suatu ketika beasiswa dihentikan karena adanya kekurangan dana dari pihak si pemberi beasiswa sehingga tidak sanggup lagi memberi bantuan. Ketika pihak pemberi beasiswa tersebut tidak memberi lagi beasiswa, semangat belajar siswa tersebut menjadi menurun.
Pelenyapan  juga merupakan suatu strategi menghentikan penguatan dimana pelenyapan ini menarik penguatan positif terhadap perilaku tidak tepat atau tidak pantas. Hal ini dikarenakan banyaknya perilaku yang tidak tepat dipertahankan akibat adanya penguatan positif terhadap perilaku tersebut. Sebagai contoh, orangtua yang kurang peka terkadang cenderung lebih memperhatikan perilaku yang tidak baik dari anaknya, seperti menegur, memarahi, membentak, dan sebagainya tanpa sedikitpun memperhatikan hal-hal baik yang dilakukan oleh anaknya, seperti memuji prestasi-prestasi dan kelakuan baik anak-anaknya. Dalam hal ini, sangat diperlukan adanya suatu pelenyapan terhadap penguatan pada hal-hal negatif yang dilakukan anaknya dan lebih memperhatikan dan memunculkan penguatan pada hal-hal positif yang dilakukan si anak.
4.1  Perbedaan Operant Conditioning dengan Classical Conditioning.
Pada dasarnya teori belajar instrumental (operant conditioning) dan teori belajar klasik (classical conditioning) memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya. Hal ini dapat dilihat pada:
1.    Classical conditioning muncul akibat adanya asosiasi (hubungan) antara dua stimulus atau rangsangan, seperti yang kita ketahui pada percobaan Ivan Pavlov mengenai hubungan antara makanan dan bunyi bel. Sebaliknya, operant conditioning muncul akibat adanya asosiasi antara respon dan konsekuensi yang timbul, seperti halnya berlatih dengan giat akan dapat memenangkan pertandingan.
2.      Pada classical conditioning biasanya meliputi mengenai refleks-refleks, perilaku yang timbul adalah prilaku yang tidak disengaja yang dikontrol oleh syaraf otonom. Sebaliknya pada Operant conditioning lebih kepada prilaku-prilaku yang sadar dan diatur oleh syaraf simpatis.
3.      Pada Classical conditioning UCS (Unconditioned Stimulus) dipasangkan dengan CS (Conditioned Stimulus), tetapi prilaku yang timbul bersifat independent. Pada operant conditioning, konsekuensi penguatan diberikan hanya jika respon yang dikondisikan terjadi.

Daftar Pustaka
King, Laura A.2010.Psikologi Umum: Sebuah Pandangan Apresiatif.Jakarta:Salemba Humanika
Lahey,Benyamin B.2007.Psychology An Introduction Ninth Edition.New York:The McGraw Hill Companies
Satrock,John W.2007.Psikologi Pendidikan. edisi kedua. Jakarta:PT Kencana Media Group
Schultz, Duane P and Sydney Ellen Schultz.1993.Theories of Personality, Ninth Edition. Brooks:Cole