Kamis, 02 Mei 2013

Alat Menyulap Plastik Jadi Premium dan Solar Cukup Murah

 

Menyulap sampah plastik menjadi bahan bakar minyak tak memerlukan peralatan berteknologi tinggi dan mahal. Tri Handoko yang sehari-hari sebagai pengajar listrik dasar dan elektrolisis di SMKN 3 Kota Madiun hanya memerlukan alat yang cukup sederhana.

Inovasi yang dilansir Forum Studi Teknik Universitas Diponegoro itu bisa dibangun dari material bekas, disesuaikan kemampuan pembuat dan kapasitas limbah yang akan diolah. Disebutkan, alat yang dipakai bisa berbiaya Rp 650.000 hingga Rp 100 juta, tergantung kebutuhan.

Peralatan yang dibutuhkan Tri untuk membuat solar maupun premiun dari limbah plastik itu terdiri saluran pemasukan atau intake manipul dari besi.

Fungsinya seperti dilansir fst.undip.ac.id dari blog indonesiaproud.wordpress.com, untuk memasukkan sampah plastik ke dalam tangki reaktor di atas tungku pembakar.

Bahan bakarnya bisa limbah kayu bekas atau gas elpiji. Bahkan, juga gas metan hasil pembakaran sampah sehingga lebih ekonomis.

Diterangkan, untuk memperoleh uap maka tangki reaktor dihubungkan kondensor atau pengembun yang berada di atas tangki.

Diperlukan minimal dua kondensor untuk memisahkan uap yang mengandung rantai molekul pendek dengan uap yang mengandung rantai molekul panjang. Penyaluran uap ini menggunakan pipa besi sehingga tahan suhu tinggi atau panas.

Selanjutnya masih dari blog tersebut, pada setiap kondensor dipasang pipa penyalur untuk mengalirkan embun dari uap yang dihasilkan. Tetes demi tetes embun ditampung dalam botol sebelum proses refinery. Begitulah rangkaian proses pembuatan minyak berbahan limbah plastik.

Satu kg limbah plastik menghasilkan 1 liter bahan dasar minyak atau minyak mentah. Ketika diolah jadi premium atau solar, hasilnya tinggal 0,8-0,9 liter. Kotoran yang melekat pada plastik turut memengaruhi. Demikian pula kualitas plastik yang dipakai. Makin bagus kualitas plastik yang diolah, makin tinggi pula hasil yang didapat.

Sejauh ini, alat terbesar yang diaplikasikan di tempat pembuangan akhir berkapasitas 15 meter kubik per hari. Dana pembuatan alat ini sekitar Rp 50 juta, termasuk biaya destilasi ulang atau refinery secara terpisah.

Disebutkan dalam blog itu, hasil uji laboratorium SMKN 3 Kota Madiun menunjukkan, solar limbah plastik menghidupkan mesin pemotong rumput.

Meski belum diuji coba pada kendaraan bermotor, premium limbah plastik telah diuji kromatografi gas pada laboratorium PT Sucofindo. Ciptaan Tri itu pernah dipamerkan pada Toyota Eco-Youth VI di Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar