Jumat, 03 Mei 2013

Inilah Tips Hadapi Bully di Kantor



Dalam dunia kerja persaingan memang dijumpai. Dalam wawancaranya dengan Oprah Winfrey, Lance Armstrong sendiri mengakui sifat kompetitif yang merasukinya secara tidak langsung mengubahnya menjadi perundung (bully) demi meraih kemenangan. Mantan rekan satu tim Armstrong, Christian Vande Velde, telah mengakui pernah diancam oleh Armstrong untuk mengonsumsi doping jika tidak ingin dikeluarkan dari tim.
Dalam posisi ‘tinggi’, sebagai pemimpin tim, Armstrong secara tidak sadar melakukan tindakan bully terhadap rekan dan bawahannya. Hal ini membuktikan bully tidak hanya dilakukan anak sekolah, tetapi juga bisa Anda alami di kantor dengan pimpinan atau sesama rekan kerja. Lantas, bagaimana cara menghadapinya?

1. Dokumentasikan
Hal pertama yang harus Anda lakukan bila mengalami bully di kantor adalah mendokumentasikannya. Catat tanggal, waktu, dan rincian peristiwa yang Anda alami. Jika memungkinkan, Anda memiliki saksi lain ketika peristiwa itu berlangsung. Jangan pernah hapus email, SMS, atau bukti tertulis yang menandakan intimidasi terhadap Anda.

2. Jangan Tunduk
Jangan merasa terintimidasi dengan sikap bully mereka. Jika Anda memberikan peluang dan memperlihatkan kelemahan, bully akan terus berlangsung. Pegang teguh prinsip Anda jangan sampai goyah karena tuntutan perundung.

3. Berbagi
Bully merupakan pengalaman yang menguras emosi dan Anda tidak bisa mengatasinya sendirian. Carilah orang yang dapat Anda percaya dan berbagilah pengalaman Anda dengannya. Hal ini dapat meringankan beban di pundak Anda dan membuat Anda lebih kuat melalui masa-masa penuh tekanan. Siapa tahu, mereka memiliki solusi yang tidak terpikirkan oleh Anda.

4. Konfrontasi Langsung
Anda juga dapat mengkonfrontasikan langsung perundung secara pribadi. Beritahu perasaan Anda padanya dan tanyakan maksud dari tindakannya. Bisa jadi, perundung tidak menyadari sikapnya yang melukai orang lain. Dengan berani menghadapinya, dia juga tahu Anda bukan pengecut yang dapat diperlakukan semena-mena.

5. Bicarakan dengan Atasan atau HRD
Jika secara personal masalah tidak dapat diselesaikan, maka jadikan masalah itu ‘serius’ dengan melaporkannya kepada atasan atau, jika masih tak berubah, ke bagian HRD. Bawa serta bukti catatan dan bukti-bukti lain yang Anda miliki, beritahu mereka bahwa tindakan rekan kerja Anda mempengaruhi Anda secara emosional dan profesional.

6. Tinggalkan
Ketika semua usaha yang Anda tempuh gagal, pertimbangkanlah untuk mencari pekerjaan baru dan segera berhenti. Tanya kepada diri Anda sendiri apakah pekerjaan itu lebih berharga dari kesehatan emosional Anda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar