Kamis, 02 Mei 2013

“Java Heat” Angkat Budaya Indonesia


Film produksi Amerika Serikat (AS) “Java Heat” menampilkan keseharian warga Indonesia, dan bisa disaksikan di layar lebar mulai minggu ini.
Margate House Films
“Java Heat,” film Amerika Serikat yang berlatar belakang Indonesia dan budayanya.
“Java Heat” bercerita mengenai perjuangan seorang marinir AS bersama seorang detektif Muslim lokal yang berusaha mencari dalang di balik serangan bom di Yogyakarta. Film ini mencapai puncaknya di Candi Borobudur, dengan pengambilan gambar yang menakjubkan.
Penggambaran tradisi khas Indonesia ditampilkan cukup baik di film ini. Contohnya saat anak-anak Hashim (Ario Bayu) mencium tangannya, yang artinya pengungkapan kasih sayang di masyarakat Jawa. Para pria dipanggil sebagai “mas”, sebutan yang biasa digunakan bagi lelaki Jawa. Sentuhan otentik lainnya terlihat saat Hashim dan Jake (Kellan Lutz) menyantap nasi goreng, mengendarai becak, dan mengenakan batik yang menjadi bagian integral budaya Indonesia.
“Java Heat” mengikuti langkah serangkaian film Amerika yang diproduksi di Indonesia. Film “Eat, Pray, Love” yang dirilis tahun 2010 menceritakan bagaimana tokoh utama yang diperankan Julia Roberts berkelana di Bali untuk menemukan cinta sejati pasca perceraiannya. Tahun lalu sutradara Oliver Stone merilis film “Savages” –tentang dua petani marijuana dan pacarnya yang harus berhadapan dengan kartel narkoba Meksiko –dengan latar belakang di pulau Moyo.
Saya memberikan film ini 3,5 dari 5 bintang. Meski jalan cerita film ini dapat ditebak, “Java Heat” dapat membuat penonton bangga terhadap Indonesia. Ario Bayu pun bermain cemerlang di dalamnya, tak kalah dari Kellan atau Mickey Rourke.
“Java Heat” menjadi bukti kecintaan sutradaranya, Conor Allyn, terhadap Indonesia. Sebelumnya, ia merilis trilogi “Merah Putih” pada 2009, mengenai perang kemerdekaan Indonesia melawan penjajah Belanda dan Jepang.
Film ini turut diputar di Dallas International Film Festival di AS 4 April lalu,  sedang dimainkan di Jerman dan akan berpartisipasi dalam Taormina Film Festival di Sicily, Italia, 15-22 Juni. “Java Heat” akan ditayangkan di bioskop mulai 18 April.
The Wall Street Journal berkesempatan mewawancarai Conor Allyn di Jakarta. Berikut petikannya:
WSJ: Di antara semua tempat bersejarah di Indonesia, mengapa Anda memilih Candi Borobudur?
Conor Allyn: Saya selalu terpesona dengan Borobudur. Ini adalah salah satu keajaiban dunia terbesar. Ketika saya menulis skenario film ini, saya sudah memiliki gambar tentang adegan akhir film ini. Dan saya dapat melihatnya berakhir di Borobudur. Ini adalah lokasi yang tepat untuk mengakhiri film ini.
WSJ: Apa pendapat Anda tentang industri film di Indonesia?
Conor: Industri film Indonesia berkembang sangat cepat, dan ini menjadi tempat terbaik yang pernah saya datangi. Semua orang di Amerika berkata Indonesia adalah tempat terbaik untuk membuat film dan saya dapat menjadi salah satu orang Hollywood pertama yang membuat film di sini… ini sangat menyenangkan dan saya ingin terus melakukannya.
WSJ: Menurut Anda, apakah “Java Heat” dapat meraih penghargaan yang sama dengan “The Raid”?
Conor: Saya kira film ini bisa sejajar dengan “The Raid”. Kami memiliki faktor-faktor yang dapat menjadikan film ini sukses….orang harus menontonnya dan menyukainya. Dan saya rasa itu yang terjadi [pada “Java Heat”].
WSJ: Bajakan “Java Heat” telah dirilis sebelumnya, baik di Internet maupun melalui kios DVD di sini. Apa tanggapan Anda?
Conor: Ini hal yang bagus dan buruk. Sebagai produser film, saya tentu ingin orang melihatnya dengan cara yang benar, dengan layar lebar dan surround sound, dan membayar tiket. Namun sebagai seorang pembuat film, rekomendasi orang adalah hal yang sangat penting untuk menciptakan buzz. Saya tidak terlalu terkejut. Pembajakan memang ada dan saya tidak akan menilai orang berdasarkan itu.
WSJ: Ada rencana untuk syuting di negara-negara Asia Tenggara lain?
Conor: Tentu saja. Saya berencana membuat film di Singapura atau mungkin Malaysia. Namun Indonesia lebih baik dari negara tersebut. Saya telah berada di sini sekitar lima tahun. Saya terinspirasi oleh kecantikan Indonesia dan keramahan orangnya. Saya ingin menampilkan tradisi Jawa yang tidak dilihat oleh sebagian besar turis kepada dunia. Ayah saya [ Rob Allyn, produser “Java Heat”] dan saya membuat film dokumenter tentang kelaparan di Jawa Timur beberapa tahun lalu. Kami ingin berbagi pengalaman Indonesia kami yang menjadi inspirasi ide-ide kami kepada penonton global.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar