Rabu, 29 Mei 2013

Wawancara Pertama dengan Seorang Lelaki "Mati"




Bagi Graham, mengunjungi pemakaman adalah cara termudah untuk merasakan kematian.
Artikel ini diterjemahkan dari artikel majalah New Scientist berjudul First Interview with a Dead Man, ditulis Helen Thomson dan dipublikasikan secara online pada Kamis (23/5/2013) lalu. Artikel dimuat dalam kolom Mindscape, kolom unik tentang ilmu otak yang membahas pengalaman orang dengan kondisi neurologi yang paling misterius.

Artikel ini membahas tentang seorang lelaki, sebut saja bernama Graham. Ia mengalami sindrom Cotard. Ia hidup, tetapi merasa dirinya mati.

KOMPAS.com — "Ketika saya di rumah sakit, saya mengatakan kepada mereka bahwa tablet yang mereka berikan tidak akan membuat kondisi saya menjadi baik karena otak saya mati. Saya kehilangan kepekaan pada bau dan rasa. Saya merasa tak perlu untuk makan, bicara, atau apa pun. Saya akhirnya cuma menghabiskan waktu di pemakaman karena di sanalah tempat terdekat saya bisa mati."

Sembilan tahun lalu, Graham bangun dari tidur dan merasa dirinya mati.

Graham saat itu mengalami sindrom Cotard. Orang dengan kondisi langka ini percaya bahwa dirinya atau bagian dari tubuhnya tak eksis lagi.

Bagi Graham, bagian yang tak eksis lagi itu adalah otak, dan ia percaya bahwa ia telah membunuhnya. Sengsara oleh perasaan tertekan, ia telah mencoba bunuh diri dengan membawa peralatan elektronik untuk mandi.

Delapan bulan setelah bangun dari tidur itu, Graham mengatakan kepada dokternya bahwa otaknya telah mati, atau lebih tepatnya hilang. "Ini benar-benar sulit untuk dijelaskan," katanya. "Saya seperti merasa bahwa otak saya tidak ada lagi. Saya terus mengatakan kepada dokter bahwa tablet tidak akan memberi pengaruh baik karena saya tak punya otak. Saya akan menggorengnya di kamar mandi."

Dokter menemukan bahwa mencoba bicara secara rasional dengan Graham tidak mungkin. Walaupun dia bicara, bernapas, dan hidup, dia tak bisa menerima kondisi bahwa otaknya masih hidup. "Saya merasa terganggu. Saya tak tahu bagaimana saya bisa bicara atau melakukan apa pun tanpa otak, tetapi selama saya merasa menaruh perhatian, saya bisa melakukannya."

Merasa bingung, dokter yang awalnya menangani Graham pun mengirimkannya ke seorang ahli neurologi, Adam Zerman, di University of Exeter, Inggris, dan Steven Laureys di University of Liege, Belgia.

"Ini pertama kali dan satu-satunya kesempatan di mana sekretaris saya mengatakan, 'Sangat penting bagi Anda untuk datang dan bicara dengan pasien ini karena ia mengatakan bahwa dirinya telah mati," kata Laureys.

Antara hidup dan mati

"Dia benar-benar pasien yang tak biasa," kata Zeman. Menurut Zeman, Graham percaya bahwa ia "ada dalam sebuah metafora tentang apa yang dia rasakan tentang dunia, bahwa pengalamannya tak lagi menggerakkannya. Ia merasa berada dalam kondisi antara hidup dan mati."

Tak ada yang tahu seberapa umum sindrom Cotard. Sebuah studi yang dipublikasikan pada tahun 1995 dan merupakan hasil penelitian pada 349 pasien lansia di Hongkong menemukan dua orang yang diduga mengalami sindrom Cotard. Namun demikian, dengan perawatan segera untuk mengatasi depresi—kondisi di mana sindrom Cotard muncul—yang telah tersedia, ilmuwan menduga bahwa sindrom Cotard saat ini sangat langka. Akademisi yang meneliti sindrom ini biasanya hanya fokus pada satu kasus khusus seperti pada Graham.

Beberapa orang yang mengalami sindrom Cotard dilaporkan mati kelaparan karena percaya bahwa dirinya tak perlu lagi makan. Beberapa yang lain mencoba membersihkan dirinya dengan zat asam yang dipercaya bisa membebaskan dirinya dari kondisi sebagai orang mati yang berjalan.

Dalam kasus Graham, saudara laki-laki dan perawatnya harus memastikan bahwa ia makan. "Saya kehilangan indera perasa dan pembau saya. Tak ada gunanya makan karena saya telah mati. Bicara hanya membuang waktu karena saya tak punya sesuatu untuk dibicarakan. Saya bahkan tak punya pemikiran apa pun. Semuanya tak bermakna," urai Graham.

Metabolisme rendah

Studi pada otak Graham akhirnya memberi Zeman dan Laureys beberapa penjelasan. Untuk melakukan studi otak, Zeman dan Laureys menggunakan teknik positron emission tomography (PET) yang membantu memantau metabolisme dalam otak. Pemakaian teknik PET ini untuk mempelajari sindrom Cotard yang diaplikasikan pada Graham adalah yang pertama kali.

Hasil penelitian Zeman dan Laureys mengejutkan. Aktivitas metabolisme pada otak bagian frontal dan parietal Graham sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa otak Graham berada pada kondisi vegetatif.

Ilmuwan mengatakan, bagian frontal dan parietal merupakan bagian yang kerap disebut default mode network, sistem kompleks yang penting agar si pemilik otak memiliki kesadaran. Jaringan ini penting agar seseorang bisa mengingat masa lalu, memikirkan dirinya, merasakan eksistensinya, serta menyadari bahwa dirinya adalah agen dari sebuah tindakan yang dilakukannya sendiri.

"Saya telah melakukan analisis PET selama 15 tahun dan saya tak pernah melihat seseorang yang mampu berdiri dan berinteraksi dengan orang lain dengan kondisi abnormal (seperti pada Graham)," kata Laureys.

"Fungsi otak Graham menunjukkan seseorang yang sedang ada dalam kondisi dibius atau tidur. Melihat kondisi ini pada seseorang yang terjaga adalah unik sepanjang pengetahuan saya," tambahnya.

Zeman mengatakan bahwa hasil scan PET Graham bisa dipengaruhi oleh pil anti-depresi yang dikonsumsi untuk meredakan sindromnya. Tak bijak untuk membuat banyak kesimpulan dari hasil analisis satu orang saja.

Meski demikian, Zeman mengatakan, "Masuk akal bahwa berkurangnya metabolisme membuatnya memiliki pengalaman berbeda tentang dunia dan memengaruhi kemampuannya untuk mengungkapkan alasannya."

Laureys menjelaskan, "Ada banyak hal yang tidak kita ketahui tentang bagaimana menjelaskan kesadaran." Dari kasus Graham, ilmuwan belajar bahwa otak memengaruhi persepsi tentang diri dan bisa tak berfungsi.

Hasil scan PET memberi banyak pengetahuan pada ilmuwan. Namun, bagi Graham, scan itu tak berarti apa-apa. "Saya merasa berada di titik terendah," katanya. Saat ini, giginya sudah mulai menghitam karena jarang disikat dan dirawat.

Graham mengatakan, ia benar-benar tak punya pemikiran tentang masa depan pada saat itu. "Saya tak punya pilihan lain kecuali menerima fakta bahwa saya tak punya cara untuk benar-benar mati. Itu benar-benar mimpi buruk," katanya.

Bayangan pemakaman

Perasaan mati membuat Graham sering pergi ke pemakaman. "Saya cuma merasa bahwa saya merasa baik di sana. Itu adalah tempat terdekat saya bisa mati, walau polisi bisa datang menjemput dan membawa saya pulang," tuturnya.

Ada konsekuensi yang tak bisa dijelaskan dari sindrom yang dialami Graham. Ia mengatakan bahwa ia merasa memiliki kaki indah dengan bulu-bulu. Namun, setelah mengalami sindrom Cotard, semua bulunya rontok. "Saya merasa seperti ayam yang dicabuti bulunya," cetusnya.

Graham terus mendapatkan perawatan. Dengan obat-obatan dan psikoterapi, kondisi Graham berangsur membaik. Ia tak lagi berada dalam sindrom Cotard. Ia bisa hidup mandiri. "Sindrom Cotard-nya hilang dan kapasitasnya untuk merasakan kesenangan hidup telah kembali," kata Zeman.

"Saya tak bisa mengatakan saya telah kembali normal sekarang, tetapi saya merasa jauh lebih baik dan bisa pergi keluar serta melakukan sesuatu di sekeliling rumah," kata Graham.

"Saya tak merasakan otak mati itu lagi. Hanya merasa aneh saja kadang-kadang," tambahnya.

Pengalaman Graham mengubah cara pandangnya tentang kematian. Graham menuturkan, "Saya tak merasa takut akan kematian. Tapi ini tak terkait dengan apa yang terjadi, semua orang akan mati pada akhirnya. Saya merasa beruntung bisa hidup saat ini."


Catatan

National Institute of Health (NIH) di Amerika Serikat menyatakan bahwa sindrom Cotard dideskripsikan pertama kali pada tahun 1882 oleh seorang dokter bernama Julie Cotard. Hingga saat ini, tidak ada obat khusus untuk menyembuhkan gejala neurologis ini. Fokus penanganan biasanya pada sindrom yang dialami. Orang yang mengalami sindrom Cotard biasanya akan mendapatkan obat anti-depresi dan anti-psikosis. Penderita biasanya juga akan menerima
electroconclusive therapy (ECT) atau bahasa mudahnya terapi dengan setrum.

Kasus sindrom Cotard juga pernah dilaporkan pada tahun 2008 oleh Anne Ruminjo dari Departemen Psikiatri, Beth Israel Medical Center, New York. Laporan dimuat di jurnal
Psychiatry pada 5 Juni 2008. Dalam laporan itu, seorang wanita Filipina berusia 53 tahun mengeluh bahwa dirinya telah mati dan berbau seperti daging busuk. Ia mengalami ketidakseimbangan elektrolit. Kondisinya membaik setelah diberikan beberapa obat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar