Minggu, 13 Oktober 2013

Bagi Antechinus, "Pesta Seks" adalah Perayaan Sebelum Kematian

 

KOMPAS.com — Mamalia golongan Antechinus, golongan masurpial yang menyerupai tikus, diketahui memiliki perilaku seks yang "gila" sekaligus mematikan.

Hasil studi terbaru menemukan, pejantan golongan ini bisa menghabiskan waktu 14 jam tanpa henti untuk mengawini sebanyak mungkin betina.

Perilaku seks yang mencengangkan itu bisa berlangsung selama dua minggu sebelum akhirnya pejantan itu kelelahan, sakit-sakitan, dan akhirnya mati.

"Pejantan yang kasihan. Anda harus mengasihaninya," kata Diana Fisher, fellow di University of Queensland yang memimpin penelitian tentang perilaku seks Anthechinus.

Antechinus punya umur sekitar satu tahun. Namun, mereka baru aktif kawin dalam dua minggu terakhir sebelum kematiannya.

Fisher dalam penelitiannya membiakkan Antechinus. Setelah dua minggu masa kawin, ia menjumpai bahwa hampir semua pejantan spesies itu mati.

Diberitakan Daily Mail, Jumat (11/10/2013), ia mengungkap, perilaku seks Antechinus dipengaruhi oleh cara produksi spermanya.

"Mereka memproduksi sperma hingga memiliki testis yang sangat besar. Antechinus hanya memproduksi sedikit sperma dan hanya sekali seumur hidupnya," kata Fisher.

"Mereka kemudian (harus) mencari betina sebanyak mungkin sebelum secara alami kehilangan sperma. Bahkan kencing pun bisa membuat mereka kehilangan sperma," imbuhnya.

Menurut Fisher, mereka yang mati sebenarnya adalah mereka yang beruntung karena sudah memanfaatkan kesempatan untuk meneruskan gennya.

Secara fisiologis, perilaku seks Antechinus juga didukung oleh hormon testosteron yang membuat fauna pemakan invertebrata itu tetap terjaga dan siap sedia berhubungan seksual.

Karena testosteron dan hormon yang memengaruhi stres pula, selama musim kawin, spesies ini jarang sekali tidur. Saat itu, hidup hanya untuk seks.

Seks pada Antechinus juga sangat liar. Selain terus berganti pasangan, seks pada spesies itu juga melibatkan gigitan dan cakaran.

Meski dalam sudut pandang manusia, seks pada jenis itu merugikan betina karena pejantan tak setia; dari sudut pandang betina Antechinus sendiri, perilaku seks itu menguntungkan.

Kompetisi antar-pejantan pada spesies itu membuat betina punya peluang besar untuk bisa hamil.

Masa kawin yang liar pada spesies ini hanya berlangsung singkat. Setelahnya, hewan itu rapuh dan tinggal menunggu ajal.

Setelah masa kawin, Antechinus banyak kehilangan bulunya, mengalami infeksi, dan pendarahan pada organ dalam. Akhirnya, mereka mati.

Perilaku seks yang sama telah dijumpai pada 12 sub-spesies Antechinus, termasuk Antechinus agilis, Antechinus subtropis, dan Antechinus berkaki kuning.

Perilaku seks pada spesies itu sering disebut "reproduksi bunuh diri". Perilaku itu banyak dijumpai pada serangga, tetapi sebelumnya jarang dijumpai pada mamalia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar