Selasa, 19 November 2013

Jakarta Diguyur Tiga Ribuan Motor per Hari

Serbuan si kuda besi itu melonjak 19,54 persen dari tahun lalu.

Macet Jakarta.

SEPEDA motor terus merangsek DKI Jakarta. Dalam rentang Januari-Oktober 2013, Ibu Kota Republik Indonesia itu diguyur 3.134 sepeda motor per hari, atau setara 130 unit per jam. Serbuan si kuda besi itu melonjak 19,54% jika dibandingkan periode sama 2012.

Data distribusi sepeda motor tersebut berasal dari anggota Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) yang saya peroleh baru-baru ini. Tentu, angka serbuan si roda dua itu bisa bertambah jika dimasukan data non anggota Aisi. Namun, penjualan non-Aisi tidak terlalu signifikan.

Di bandingkan dengan provinsi lain di Indonesia, DKI Jakarta menyumbang 14,59% terhadap total penjualan sepeda motor di pasar domestik yang mencapai sekitar 6,53 juta unit. Oh ya, secara nasional, dalam rentang sepuluh bulan 2013, serbuan si kuda besi mencapai sekitar 21.480 unit per hari alias 895 motor per jam. Volume penjualan di pasar domestik naik 8,37% menjadi 6,53 juta unit dibandingkan periode sama 2012 yang sekitar 6,02 juta unit.

Posisi DKI Jakarta merupakan wilayah ketiga terbesar yang menyerap penjualan sepeda motor di Indonesia. Provinsi yang menyumbang penjualan terbesar dipegang oleh Jawa Timur, yakni sebanyak 1,14 juta unit atau 17,61% dari total pasar Indonesia. Sedangkan wilayah kedua terbesar adalah Jawa Barat, yakni 1,09 juta unit (16,83%).

Sementara itu, Pulau Jawa menjadi wilayah terbesar yang menyerap penjualan sepeda motor anggota Aisi. Jawa menyerap sekitar 4,19 juta unit atau 64,19% dari total penjualan sepeda motor. Nah, penjualan sepeda motor di Jawa ternyata melonjak 21,6% dibandingkan periode sama 2012 yang sekitar 3,44 juta unit. Saat itu, pasar Jawa menyerap sekitar 57,2% penjualan sepeda motor anggota Aisi.

Kembali soal Jakarta. Ternyata, peminat sepeda motor masih cukup tinggi di tengah sistem transportasi publik yang belum mampu mengakomodasi pergerakan warga kota. Sepeda motor masih dianggap mangkus dan sangkil dalam menopang pergerakan orang. Maklum, sepeda motor bisa langsung point to point dalam mengantarkan sang penunggang. Namun, di sisi lain, tingginya populasi sepeda motor juga ikut menyemarakkan kemacetan lalu lintas jalan di Jakarta. Belum lagi, risiko terjebak dalam kecelakaan lalu lintas jalan. Tiap hari, di Jakarta terjadi 20-an kasus kecelakaan yang mengakibatkan tiga orang tewas setiap hari. (edo rusyanto)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar