Rabu, 06 November 2013

Sehari Bersama Astra Toyota Agya di Kota Kembang


Akselerasi mantap diputaran bawah

Bandung, KompasOtomotif - Setelah sempat menjajal sebentar di pelataran parkir, November tahun lalu, Toyota Indonesia mengajak sejumlah jurnalis, termasukKompasOtomotif merasakan sensasi Agya dengan tajuk "Astra Toyota AGYA, Totally You Experience-Media Test Drive" di Bandung, Jawa Barat, (13-14/9/2013). Sebagai mobil yang difokuskan sebagai transportasi urban, Kota Kembang dipilih untuk mengujinya. 
Rombongan berangkat dari Jakarta menuju Bandung menggunakan bus. Setibanya di Pasteur, langsung dibagi dalam kelompok. KompasOtomotif tergabung dengan satu rekan media cetak ekonomi nasional mendapat jatah varian G A/T putih. 
Empuk
Duduk di sebelah pengemudi, ruang kabin depan terasa lega. Dengan postur 170 cm, jok dirasakan lumayan empuk menopang bokong. Kaki bisa selonjor  dengan memundurkan jok sampai habis ke belakang. Pendingin ruangan terasa sejuk, meski hanya diposisikan di tingakt 1 dengan suhu terdingin dan kondisi cuaca di luar mendung.
Panel indikator, konsumsi bahan bakar rata-rata

Jalan-jalan utama Kota Kembang yang dilintas, kondisinya mirip dengan Jakarta, kepadatan menyapa hampir di setiap ruas. Meski harus bermacet-ria, kaki bisa diistirahatkan dengan berbagai posisi (menekuk, silangdan topang) sehingga tidak cepat lelah. Sesekali melintasi jalanan rusak, suspensi Agya meredamnya cukup baik, meski sesekali terasa bantingan belum sesuai harapa. Suara "duk" terdengar jika rodamelindas lubang lumayan dalam.  
Selama perjalanan, suasana dalam kabin lumayan kedap. Lantunan musik dari sistem audio 2-DIN masih sedikit bercampur dengan suara dari luar ruangan.
Lincah
Setelah pemberhentian pertama di kawasan Dago, giliran KompasOtomotif berada di belakang kemudi. Hal pertama yang mengundang perhatian adalah panel instrumen  yang terdiri dari speedometer, tachometer, tripmeter, odometer, alarm (5-waktu), eco-diving dan informasi konsumsi bahan bakar rata-rata. Indikator eco-driving akan menyala jika pengemudi dinilai mengemudikan mobil dengan irit.    
Dimensi yang kompak, membuat gasmpang diajak bermanuver. Setir terasa ringan karena dilengkapi dengan Electric Power Streering (EPS). Akselerasi, mesin DOHC 3 silinder berkapasitas 998 cc  65,3 PS @ 6.000 rpm dan torsi 8,8 kg-m @3.600 rpm yang digunakan cukup baik, khusus pada putaran rendah. 
Sedikit kekurangan dirasakan ketika hendak berbelok ke kiri, pandangan jendela depan terbatas,  agak terganggu dengan adanya spion tengah: kepala perlu sedikit menunduk untuk melihat kondisi jalan di sekitar.
Konsumsi BBM
Selama di Bandung, KompasOtomotif sengaja tidak mempraktekkan gaya berkendara eco-driving. Meski sudah melalui tahap verifikasi khusus program mobil murah dan ramah lingkungan (LCGC) oleh pemerintah dan diklaim tembus 20 kpl, namun pada tes ini tidak bisa dicapai. Hasil terbaik berdasarkan infiormasi konsumsi  bahan bakar dari mobil adalajh 9,3 kpl.  
Kesimpulan

Sebagai produk LCGC, Agya punya keterbatasan. Toyota berusaha memberikan paket terbaik, antara lain dua kantung udara di depan pada semua varian. Kelengkapan kenyamanan lain adalah power window, spion listrik, central lock, audio dengan konektor USB dan AUX. Sayang belum dilengkapi dengan alarm dan untuk membuka pintu harus memutar kunci, seperti mobil era 80-an. Ya, tidak bisa dipungkiri, makin banyak fitur, harganya juga bertambah mahal. Sementara pemerintah, juga menentukan patokan, harga tidak boleh terlalu mahal dari batas yang telah ditentukan Rp 95 juta!  Sebagai transportasi, Agya jauh lebih nyaman dan aman dibandingkan dengan sepeda motor atau kendaraan roda berusia di atas 15 tahun. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar