Senin, 14 Januari 2013

Hubungan Media Massa dengan Masyarakat


Hubungan Media Massa dan Masyarakat

Hubungan media massa dengan masyarakat telah di bahas dengan berbagai pendekatan yang berbeda. Pertama, hubungan tersebut merupakan bagian dari sejarah perkembangan setiap media massa dalam masyarakat sendiri. Pola hubungan tersebut merupakan hasil refleksi sejarah yang di perkirakan turut berperan dalam perkembangan sejarah itu tersendiri. Terlepas dari adanya persamaan dari beberapa institusi media pada semua masyarakat, pada awalnya media juga menerapkan kegiatan dan konvensi sebagaimana yang diterapkan oleh institutasi nasional lainnya. Hal itu tampak dalam isi media. Mediapun memenuhi harapan khalayaknya. Media mencerminkan, menyajikan dan kadangkala berperan serta secara aktif untuk memenuhi kepentingan nasional yang di tentukan oleh para aktor dan isntitusi lain yang lebih kuat.
Kedua, gambaran media sebagai institusi mediasi, yang menghubungkan para anggota masyarakat biasa dengan peristiwa dunia yang sulit di jangkau oleh penguasa, merupakan ide yang mengandung konsep hubungan yang terjadi setidak-tidaknya karena adanya arus informasi yang berkesinambungan. Ketiga, sebagai suatu institusi yang di perlukan bagi kesinambungan sistem sosial masyarakat industri (informasi) modern yang berskala besar. Hubungan lainnya, dapat di lihat dari sisi normatif. Dalam sisi normatif ini di sebutkan harapan masyarakat terhadap media dan peran yang seharusnya di mainkan oleh media. Hal ini di karenakan, dalam fungsi media telah di sebutkan media massa berperan untuk membuat rasa nyaman terhdap publik atau komunikannya. Jika, masyarakat mulai tidak suka terhadap tayangan yang di tampilkan oleh televisi maka televisi tersebut dengan sendirinya akan mengalami “miskin” pendapatan. Pendapatan televisi terbesar di peroleh dari iklan. Para pemasang iklan akan melihat rating tayangan tertentu jika memasang iklan di televisi tersebut. Sebut saja misalnya, sebuah perusahaan akan mengiklankan produknya di salah satu stasiun televisi. Jika rating program yang di tayangkan sangat sedikit penontonnya, maka si pemilik perusahaan akan memilih program lain atau stasiun televisi lainnya yang memiliki penonton dengan jumlah besar.

Cultural Studies ( Studi Kultural )


Cultural Studies

Cultural Studies selalu merupakan bidang penelitian multi dan post disipliner yang mengaburkan batas-batas antara dirinya dan subjek lain. Namun Cultural Studies (CS) tidak dapat didefinisikan secara sembarangan, kata Hall ada sesuatu yang diperbincangkan dalam cultural studies yang membedakan dirinya dari wilayah subjek lain.
Bagi Hall yang diperbincangkan adalah hubungan Cultural Studies dengan persoalan kekuasaan dan politik, dengan kebutuhan akan perubahan dan dengan representasi atas dan ‘bagi’ kelompok-kelompok social yang terpinggirkan, khususnya kelas, gender dan ras. Dengan demikian, cultural studies adalah satu teori yang dibangun oleh pemikir yang memandang produksi pengetahuan teoritis sebagai praktik politik. Disini, pengetahuan tidak pernah menjadi fenomena netral atau objektif melainkan posisionalitas, soal dari mana orang berbicara, kepada siapa dan untuk tujuan apa.
Cultural Studies merupakan suatu bangunan diskursif, yaitu jejak-jejak (atau bangunan) pemikiran, citra dan praktis, yang menyediakan cara-cara untuk berbicara, bentuk-bentuk pengetahuan dan tindakan yang terkait dengannya tentang topic, aktivitas social tertentu atau arena institusional dalam masyarakat. Cultural studies dibangun oleh suatu cara yang tertata di sekeliling konsep-konsep kunci, ide dan pokok perhatian. Terlebih lagi, cultural studies memiliki suatu momen ketika dia menamai dirinya, meskipun penamaan itu hanya menandai penggalan atau kilasan dari suatu proyek intelektual yang terus berubah.
Banyak praktisi Cultural studies menentang pembentukan batas-batas disipliner bidang ini. Dalam konteks itu, Bennet (1998) menawarkan ‘elemen definisi’ cultural studies :
1. cultural studies adalah suatu arena interdisipliner di
mana perspektif dari disiplin yang berlainan secara selektif
dapat diambil dalam rangka menguji hubungan antara
kebudayaan dan kekuasaan.
2. cultural studies terkait dengan semua praktik, institusi dan system klasifikasi yang tertanam dalam nilai-nilai,
kepercayaan, kompetensi , rutinitas kehidupan dan bentuk- bentuk kebiasaan perilaku suatu masyarakat (Bennet, 1998)
3. Bentuk-bentuk kekuasaan yang dieksplorasi oleh cultural studies beragam termasuk gender, ras, kelas,kolonialisme,dll. Cultural Studies berusaha mengeksplorasi hubungan antara bentuk-bentuk kekuasaan ini dan berusaha mengembangkan cara berfikir tentang kebudayaan dan kekuasaan yang dapat dimanfaatkan oleh sejumlah agen dalam upayanya melakukan perubahan.\
4. Arena institusional utama bagi cultural studies adalah perguruan tinggi dan dengan demikian cultural studies menjadi seperti disiplin akademis lain